Merindu Ibu

Saya teringat ibu. Lantas perasaan rindu segera membuncah di dada. Menyeruap keluar hingga saya segera menuliskannya pada catatan ini. Beliau telah meninggal saat saya masih duduk di kelas 5 SD. Saya masih belum mengerti banyak tentang kematian. Yang saya tahu Beliau telah pergi selamanya meninggalkan kami. Beliau meninggal dalam kecelakaan kereta.

Saat ini saya sudah duduk di bangku semester 7 sarjana muda. 10 tahun sudah lewat dari masa itu. Di sela-sela masa tersebut, saya sering menggali masa saat saya masih melihat ibu dengan kasat mata. Ibu berperawakan tinggi dan kurus. Rambut ibu pendek sebahu. Ibu orang yang sangat sederhana dan bersahaja. Walau bapak bisa saja membelikan banyak baju untuk ibu, ibu memilih memakai sejumlah baju yang itu-itu saja. Sebenarnya ibu bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk tetap bekerja lantaran bapak sering berpindah dari satu kota ke kota lain setiap rentang 2 tahun, ibu memilih berhenti bekerja. Melihat kondisi tersebut dari kacamata saya sekarang, saya banyak bersyukur karena kondisinya seperti itu. Berkat kondisi itulah setidaknya saya masih memiliki serpihan kenangan bersama ibu. Saya bisa berpamitan, makan siang bersama, dijemput, dan diajari mengaji dan matematika oleh ibu.
Ibu bukan sosok yang banyak bicara. Ibu hanya berbicara saat perlu. Akibatnya kenangan saya pada ibu lebih banyak dalam bentuk visual. Untuk kenangan visualpun sebenarnya tidak bisa dianggap banyak. Seberusaha saya menggali serpihan kenangan tidak banyak kenangan yang muncul.

Saya cukup kaget saat ada sanak saudara jauh yang bertemu saya dan berkata, “Wajahmu mirip sekali dengan ibumu. Saya pangling”. Benarkah yang dikatakan beliau? wah, saya senang sekali rasanya. apalagi yang mengatakan hal tersebut cukup banyak. Saya merasa senang juga saat bapak saya berkata, “Selera bajumu sama persis dengan ibu. Cara tertawamu juga”. Dari situ saya mengambil kesimpulan, sebenarnya saya tak perlu merasa sedih lantaran kenangan saya terhadap ibu yang sedikit itu, ibu ada bersama saya, sikap-sikap ibu tumbuh di dalam diri saya. Walau kami tidak bisa bertemu secara fisik, saya memiliki solusi dalam melepaskan kerinduan saya terhadap beliau yaitu dengan menjadi anak yang solehah sehingga ibu tetap mendapatkan pahala tiada henti di dunia sana.

Bu, walau begitu, saya tetap merindukan ibu. Rindu sekali hingga bila kita bertemu, saya akan langsung memeluk ibu erat-erat. Banyak kisah yang ingin saya ceritakan pada ibu. Bu, saya akan berusaha jadi anak solehah. Sampai bertemu ibu di dunia sana nanti🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s