Hukum Riba Dalam Islam

Secara harfiah, riba berarti “pertambahan”, “kelebihan”, “pertumbuhan”, atau “peningkatan”. Secara resmi, riba diartikan sebagai “suatu keuntungan moneter tanpa ada nilai imbangan yang ditetapkan untuk salah satu dari dua pihak yang mengadakan kontrak dalam pertukaran dua nilai moneter”.

Konsep riba tidak terbatas pada bunga, karena ada dua bentuk riba dalam Islam, yaitu riba al-qardh yang berarti tambahan atas pinjaman yang kemudian dikenal sebagai bunga pinjaman, dan riba al-buyu yang berarti tambahan atas jual beli. Riba al-buyu terbagi lagi menjadi dua bentuk yaitu riba al-fadhl yaitu pertukaran langsung antara komoditas yang sama namun dengan kualitas dan kuantitas yang berbeda, dan riba al-nasya yang meliputi pertukaran tidak langsung antara satu komoditas yang sama dengan kualitas dan kuantitas yang sama. Riba al-qardh yang mudah kita temui sebagai bunga dalam bank konvensional adalah beban atas pinjaman yang bertambah seiring pertambahan waktu, atau dengan kata lain pinjaman berbunga.

Al-Razi ([1872] 1938) mengemukakan lima alasan pelarangan riba, yaitu:
1. Riba merupakan perampasan hak milik orang lain tanpa memberikan nilai imbangan.
2. Manusia yang mendapatkan penghasilan dari riba pada cara gampang mendapatkan uang sehingga tidak mau bekerja keras untuk mencari uang.
3. Jika riba dibolehkan, orang-orang, karena desakan kebutuhan akan meminjam meskipun dengan tingkat bunga tinggi sehingga akan mengakibatkan perpecahan dan perselisihan
4. Kontrak riba menjadi saran orang kaya mendapat keuntungan dari modal. Hal ini bertentangan dengan keadilan dan persamaan karena menyebabkan orang kaya tetap kaya dan orang miskin tetap miskin
5. Riba dinyatakan haram dalam Alquran yang tifak perlu lagi dipertanyakan kebenarannya karena datang langsung dari Allah SWT.

Yusuf al-Qardhawi (Hussain, 1999) mengemukakan empat alasan pelarangan bungan dalam Islam, sama dengan alasan yang dikutip dari al-Razi ([1872] 1938):
1. Mengambil bunga berarti mengambil milik orang lain tanpa memberikan apapun kepadanya sebagai sebagai pertukaran. Pihak kreditor menerima sesuatu tanpa pengorbanan apapun.
2. Ketergantungan pada bunga menghilangkan semangat untuk bekerja. Uang yang dipinjamkan dengan bunga tidak akan digunakan dalam industri, perdagangan, atau perniagaan yang semuanya membutuhkan modal sehingga hal itu mencerabut masyarakat dari berbagai manfaat
3. Pengambilan bunga menghilangkan semangat orang untuk melakukan kebaikan. Jika bunga dilarang, manusia saling meminjamkan dengan niat baik tanpa mengharapkan kelebihan dari yang mereka pinjamkan.
4. Biasanya kreditor berasal dari kalangan kaya sedangkan debitur dari kaum miskin. Si miskin akan dieksploitasi oleh si kaya melakukan pembebanan bunga atas pinjaman.

Dosa akibat riba
Rosulullah SAW bersabda:
“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah seseorang melanggar kehormatan saudaranya” (HR. Al-Jakim dan Al-Baihaqi)

“Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sesungguhnya penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk di -adzab oleh Allah.” (HR. Al-Hakim)

Sanksi atas riba
Kitab suci Alquran menyatakan bahwa pelaku riba tidak akan selamat di Hari Pengadilan yaitu pada ayat berikut:

Orang yang memakan riba tidak dapat berdiri lagi (pada hari kebangkitan, melainkan seperti berdirinya orang yang tidak berdaya akibat sentuhan setan (makdsudnya, dikuasai setan); itu karena mereka telah berkata: “Sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah yelah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu berhenti (dari melakukan riba) maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (melakukan riba) maka mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS. Al Baqarah [2]: 275-276)

Namun, tidak ada hukuman khusus yang ditetapkan dalam Alquran sehingga hal itu diserahkan kepada para hakim untuk menentukan skala hukuman, kualifikasi, dan validitas hukumnya (Schacht, 1964, h.12). Bagi orang yang sudah berusaha melepaskan diri dari riba tapi mendapati lingkungan masyarakat yang tidak mendukung sehingga tidak bisa benar-benar terbebas dari riba, maka penghasilan uang tidak sah itu dapat didistribusikan kepada lembaga pengelola zakat atau menyerahkan harta itu kepada orang miskin sebagai sedekah.

Sumber: Buku Perbankan Syariah: Prinsip, Praktik, dan Prospek oleh Mevyn K. Lewis dan Latifa M. Algoud

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s