Transaksi atau Skema Bagi Hasil dalam Islam

Berdasarkan UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan Pasal 1, yakni bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dala, bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan tarif hidup rakyat banyak. Dalam perkembanganya, bank berkembang menjadi dua jenis, yaitu bank konvensional dan bank syariah. Perbedaanya mendasar dari keduanya adalah bank syariah menjalankan prinsip-prinsip dasar transaksi ekonomi Islam. Makna harfiah syariah adalah “jalan menuju sumber air” dan dalam pengertian teknis kata ini berarti sistem hukum dan aturan perilaku yang sesuai dengan ajaran Alquran dan hadis. Perbankan Islam memberikan layanan bebas-bunga kepada para nasabahnya. Sistem utama bank islam adalah skema PLS (profit and loss sharing) atau bagi hasil. Tiga jenis transaksi utama dalam sistem keuangan Islam adalah mudharabah, musyarakah, dan murabahah.

1. Mudharabah (kontrak permodalan)
Istilah mudharabah berasal dari kaya dharb fi al-ardh yaitu orang yang bepergian di tasa bumi mencari karunia Allah SWT. Mudharabah merupakan kontrak bagi hasil, yang melibatkan dua pihak yaitu pemodal dan pengelola. Pemodal memercayakan sejumlah dananya kepada pengelola dengan imbalan bagian keuntungan atau kerugian dari pengelolaan modal berupa suatu aktivitas atau usaha. Dalam mudharabah, pemodal tidak mendapat peran dalam manajemen. Berikut ini adalah beberapa poin penting berkenaan dengan mudharabah:
– pembagian keuntungan antara dua pihak harus ditetapkan secara proporsional. Pemodal tidak secara otomatis mendapat keuntungan atau bagian yang telah dipastikan sebelumnya
– pemodal tidak bertanggung jawab atas kerugian di luar modal yang telah diberikannya
– pengelola tidak turut menanggung kerugian kecuali kerugian waktu dan tenaga
– modal tenaga dan modal finansial memiliki kedudukan yang sama

2. Musyarakah (kontrak kemitraan)
Secara istilah musyarakah berarti kemitraan dalam suatu usaha dan dapat diartikan sebagai bentuk kemitraan antara dua orang atau lebih yang menggabungkan modal atau kerja mereka untuk berbagi keuntungan serta menikmati hak dan tanggung jawab bersama. Musyarakah melibatkan lebih banyak pemodal, yang menginvestasikan dana mereka dalam jumlah yang beragam. Keuntungan atau kerugian ditanggung bersama dengan rasio yang berbeda-beda sesuai dengan kontribusi masing-masing. Musyarakah meniscayakan kemitraan yang lebih aktif dari sejumlah pihak yang menggabung modalnya dan bersama-sama mengelola serta mengontrol perusahaan.

3. Murabahah (mark-up atau penaikan harga jual)
Murabahah adalah menjual kembali atau menyewakan aset dan barang yang diperoleh dengan harga yang telah dimark-up. Satu hal yang membedakannya dengan cara penjualan yang lain adalah bahwa penjual dalam murabahah secara jelas memberi tahu kepada pembeli berapa nilai pokok barang tersebut dan berapa besar keuntungan yang dibebankannya pada nilai tersebut. Keuntungan tersebut bisa berupa lump sum atau berdasarkan persentase.

Sumber:
Buku Perbankan Syariah: Prinsip, Praktik, dan Prospek oleh Mevyn K. Lewis dan Latifa M. Algoud
Buku Sistem Ekonomi Islam oleh Dr. Muhammad Sharif Chaudry, MA, LLB, Ph.D.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s