Berbagi Cinta Bersama Tahanan Laprita

Terik matahari yang menyengat tidak menghalangi kami untuk berangkat dari Manggarai ke Tangerang. Ya, kami adalah Dreamdelion Community Empowerment, sebuah wirausaha sosial yang memberdayakan ibu-ibu dengan membuat kerajinan tangan. Kami terdiri dari pemuda yang berasal dari berbagai universitas dan daerah. Beberapa dari kami baru saja saling kenal pada hari itu tapi kesamaan frekuensi dalam hati kami untuk berkontribusi kepada masyarakat membuat kami cepat akrab. Dalam hari saya merasa kami adalah keluarga tanpa ikatan darah.

Sebenarnya kami mau ngapain sih ke Tangerang? Dreamdelion mengadakan Share The Love 3 dengan mengadakan serangkaian kegiatan berbagi cinta di Lapas Anak Salemba dan Lapas Anak Pria Tangerang (Laprita). Acara ini dimotori oleh teman-teman internship Batch IV Yayasan Dreamdelion Indonesia. Dengan adanya angka 3, Share The Love sudah diadakan dua kali sebelumnya. Pada Share The Love I, kami melaksanakan bakti sosial ke 4 Panti Asuhan di Depok dan Bogor. Pada Share The Love II, kami berkunjung, bermain, dan donasi untuk 2 Yayasan Kanker Anak. Terakhir pada Share The Love 3, kami melakukan kegiatan di Lapas Anak Salemba (17-07-2014) dan Lapas Anak Tangerang (19-07-2014).

Kami berangkat dari Manggarai pada pukul setengah 11 dan sampai di Laprita pada pukul 12. Karena udara yang cukup panas, sedang berpuasa, dan begadang pada malam harinya, waktu di tronton kebanyakan saya habiskan untuk tidur. hehe

Tiba di Lapas Anak Salemba dan Lapas Anak Pria Tangerang, saya disambut oleh sebuah gedung tua dengan dinding tebal dan pintu gerbang menjulang hingga langit bangunan. Gaya arsitektur bangunan yang khas ini meyakinkan saya bahwa bangunan ini dibangun di sekitar zaman penjajahan atau awal kemerdekaan. Di atas pintu masuk utama, terpasang sebuah baliho dengan tulisan “Saya malu datang terlambat”. Sebuah pesan kebaikan yang sarat makna.

10564062_616282548469234_1444061383_o
Foto di Depan Gerbang Lapas

Sebelum masuk ke dalam gedung, kami berfoto terlebih dahulu. Lelah dalam perjalanan bisa saja menghinggapi kami tapi semangat kami untuk memulai acara bersama anak-anak Lapas seakan membuncah di dada. Kami tidak sabar untuk masuk!
Kami masuk dengan kewajiban menitipkan handphone ke penjaga pintu. Kami hanya boleh membawa 2 kamera. Mengetahui saya tidak berkesempatan memotret sendiri, saya bertekad merekam baik-baik kondisi Lapas dalam ingatan saya.

Lapas terdiri dari 3 bangunan utama. Bangunan pertama berbentuk huruf O persegi yang menjadi gedung administrasi para pengurus Lapas. Di tengah bangunan huruf O persegi tersebut, terdapat dua bangunan berbentuk huruf I dalam posisi sejajar. Dua bangunan ini menjadi asrama para anak-anak yang tinggal dalam Lapas. Selain dua bangunan berbentuk huruf I, juga terdapat masjid dan aula besar. Kedua bangunan berbentuk I dikelilingi oleh pagar jeruji setinggi 2-3 m. Jeruji dicat bewarna-warni sehingga membuat kondisi Lapas menjadi lebih ramah.

Saat kami masuk, saya melihat beberapa pengurus berlalu lalang. Saya belum melihat anak-anak Lapas. Mungkin mereka sedang mempersiapkan diri untuk acara kami. Pukul 2 lewat acarapun dimulai. Aula sudah dipenuhi oleh anak-anak Lapas. Range umur mereka antara 14 sampai 20 tahun. Melihat senyum dan wajah mereka, saya merasa bahwa mereka adalah anak baik. Kondisi lingkunganlah yang membuat mereka melakukan kesalahan hingga masuk Lapas. Walau begitu, saat ini mereka sudah mendapatkan pembinaan. Kita harusnya tidak memandang mereka sebelah mata atau menatap dengan pandangan merendahkan. They are also a human being that want to be treated fairly.

Acara dibawakan oleh 2 mc kece bernama Mella dan Marissa. Duet maut ini berhasil mencairkan suasana acara sehingga kami yang baru pertama kali bertemu dengan anak-anak lapas dapat berbaur dalam satu euforia. Acara dimulai dengan sambutan Wakil Ketua Acara yaitu Bejo, CEO Dreamdelion yaitu kak Alia Noor Anoviar, dan Ketua Lapas. Selanjutnya adalah penampilan bank bernama Laprita. Mereka menyanyikan dua lagu. Melihat perfomance mereka yang all out, saya merasa sangat bangga. Di dalam lapas saja mereka sudah berkarya seperti ini, apalagi kalau sudah keluar lapas.

10378194_616860078411481_8644295405071747107_n
Duet Maut MC dengan Band Laprita

Acara dilanjutkan dengan games tebak lagu. Jadi anak-anak lapas dibagi dalam 20 kelompok. Masing-masing kelompok mendapatkan satu fasilitator. Ibarat lari estafet, satu persatu kami harus memperagakan judul lagu yang kami dapatkan dalam bentuk gerak tubuh ke satu teman. Satu teman akan memperagakan ke teman selanjutnya. Begitu seterusnya hingga orang terakhir dalam kelompok harus menebak judul lagu dari gerakan tersebut. Games ini berhasil meningkatkan antusiasme kami untuk mengikuti acara selanjutnya yaitu Draw Your Dream. Sebelum memulai acara Draw Your Dream, kami menunaikan shalat ashar berjamaah terlebih dahulu.

10505292_616861378411351_8594986753615737865_n
Kegembiraan Terpancar dari Anak-anak Lapas

Sayangnya saya sudah harus pulang sebelum mengikuti acara Draw Your Dream. Jadi saya ceritakan saya hasil cerita teman saya. Hehe. Anak-anak lapas diberikan kertas dan pulpen. Mereka dibebaskan berekspresi dengan menggambarkan dan menuliskan mimpi-mimpi mereka. Raga mereka boleh saja terbatas hanya di dalam lapas tapi mimpi mereka bisa membuncah, berpendar, dan naik hingga ke langit. Berikut adalah beberapa foto impian mereka. Indeed their dream is unique ^^

10525366_10202822614466293_9157466331445184912_n
Bermimpi menjadi musisi

10483993_10202822613426267_5933565479379927266_n
Bermimpi menjadi pelaut

10563130_10202822612786251_539795182267076711_n
Bermimpi membuka restoran

10320469_10202822610346190_7112739092000543208_n
Menanti saat keluar lapas

Selain Draw Your Dream, ada juga penampilan dari Teater BIAS yang dibina oleh Yayasan Tunas Bangsa dengan judul ‘Asa di Balik Jeruji Tahanan’. Komentar teman saya, “Kerennnnnnn banget dan menghibur adik-adik Laprita dan teman-teman semua”. Aaa, saya jadi bersedih tidak bisa menyaksikannya langsung.

10547631_616863878411101_1057153910476381360_n
Penampilan Teater BIAS

Sebagai penutup acara, kami membagikan parcel untuk semua partner yang sudah bekerjasama dan membuat acara Share The Love 3 ini sukses. Ada Yayasan Tunas Bangsa, Berbagi Nasi, MUSA, Enigami, dan para donatur yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Tanpa mereka, acara ini tidak akan terwujud sesukses ini. Terimakasih.

Hari ini saya belajar banyak hal. Kali pertama saya mengunjungi Lapas, kali pertama pula saya ke Tangerang dengan tronton dan kali pertama saya melihat langsung anak-anak lapas. Mereka tidak seperti anggapan orang-orang yang penuh prasangka bahwa mereka tidak bermasa depan dan bersikap buruk. Sekali-kali tidak! Mereka adalah orang baik dengan apa-adanya mereka. Mereka adalah yang dengan segala kekurang mereka, selalu berusaha memperbaiki diri.

Saya merasakan indahnya berbagi di Dreamdelion. Kami bukanlah pihak yang berbagi kebahagiaan pada mereka, justru merekalah yang membagi kebahagiaan dan pembelajaran hidup kepada kami. Melihat antusiasme dan semangat hidup mereka yang terus menyala, quote oleh Mark Twain benar adanya, bahwa “The best way to cheer yourself up is to try to cheer somebody else up”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s