Pengalaman 2 Kali Gagal LPDP: Just Brace the Failures

Menceritakan kegagalan meraih beasiswa adalah hal yang tidak mudah bagi saya. Rasanya seperti membuka luka lama yang membuat dada terasa sakit. Saya tidak suka mengingat tatapan orang tua yang bersimpati pada saya dan kegagalan saya yang tidak bisa membanggakan mereka. Saya tahu mereka tetap bangga sepanjang saya melakukan yang terbaik. But still, it still hurt. Pada masa tersebut, saya cenderung menyendiri dan meminimalisir komunikasi dengan orang lain.

Well, hell yeah, just brace the failures. Saya akan tetap menceritakan kegagalan saya dan semoga para pembaca bisa mengambil manfaatnya. Saya yakin bahwa kegagalan-kegagalan ini justru akan menguatkan mental saya dan membuat saya melompat lebih tinggi. Toh, dari terus mencoba, saya yakin akan ada saatnya saya berhasil.

Saya mulai mendaftar beasiswa pada akhir tahun 2014 dengan mendaftar beasiswa LPDP batch 4. At that time, saya baru wisuda pada Agustus 2014. Saya masih bermental bahwa saya akan berhasil. Seluruh semesta mendukung saya. Kala itu, bisa dibilang saya immature dan sombong.

Walau saya berlatarkan Teknik Sipil, saya sangat menyukai kegiatan sosial sehingga saya nekat mendaftarkan diri dengan jurusan Master of Social Entrepreneurship di Amerika. Kesombongan membuat saya gelap mata. Saya yakin sekali saya bisa mengatasi semuanya, semua akan baik-baik saja, dan saya akan lolos LPDP. Bahkan saya hanya latihan wawancara seadanya dan tidak banyak mencari info tentang universitas yang saya lamar. Sampai akhirnya saya mendapati diri saya sangat gugup sampai saya berkeringat dingin dan tangan saya gemetar saat saya duduk di depan 3 pewawancara yang terlihat mengintimidasi.

Mereka melihat saya dengan tatapan meragukan dan mengajukan beberapa pertanyaan untuk sekedar formalitas. Karena terlalu gugup, saya menjadi blank dan lupa sama sekali dengan isi esai saya. Sayapun menjawab dengan jawaban-jawaban pendek. Bahkan saking tidak tertariknya dengan saya, salah satu pewawancara melanjutkan wawancara sambil memainkan handphone.

Selesai wawancara, deep down in my heart, I knew I failed. A BIG FAIL!. Saya mengutuki diri saya yang terlalu sombong. 3 minggu menunggu pengumuman, saya masih mengharapkan keajaiban dan senantiasa berdoa pada Allah SWT. Then, the moment of truth came and as I knew before, I failed. My name was not in awardees list.

Kala itu, semua kalimat-kalimat bijaksana dari orang tua, saudara, dan teman yang berusaha menghibur saya rasanya hanya masuk telinga kanan dan keluar telingan kiri. Saya berpikir, mereka tidak ada di posisi saya. Mereka tidak benar-benar mengerti.

Setelah melalui 2 minggu yang suram. Saya berusaha bangkit kembali. Saya menyibukkan diri saya dengan bekerja, menyicil belajar TOEFL, dan mencoba hal-hal baru sebagai bentuk pengalihan pikiran dan penghiburan diri. Deep down in my heart, I promised that I will prepare better for the next battle.

I also became more optimist by knowing that this failure plays essential part to make me grow stronger mentally. I learned a lot from this failure, arrogance and bad preparation will take you nowhere.

Pada akhir tahun 2015, setahun setelah kegagalan pertama saya, tiba-tiba saya terusik. Sudah 1 tahun berlalu, apakah ini sudah saatnya saya mencoba lagi?. Saya masih ragu karena merasa belum siap dan suasana intimidasi saat wawancara masih jelas teringat. Sayapun banyak berdoa minta diberikan petunjuk dan saya berkonsultasi dengan orang-tua dan teman-teman. Saya juga memikirkan plus dan minusnya apalagi saya lanjut S2 atau tetap bekerja.

Akhirnya saya memantapkan diri untuk menantang diri saya lagi. Kali ini saya tidak akan mencoba di LPDP saja, saya juga akan mendaftar beasiswa lain. Mulailah hari-hari saya rajin browsing, membuka website berbagai beasiswa dan universitas. Saya folderkan berbagai beasiswa seperti Australia Awards, DAAD, Eiffel, Erasmus, Fulbright, Monbukagakusho, Swedish Institute (SI), Chevening, New Zealand scholarship, dan Turkiye Burslari.Saya petakan beasiswa yang menjadi prioritas saya karena saya belum bisa mendaftar ke beberapa beasiswa dengan syarat minimal sudah bekerja 2 tahun. Saya petakan juga puluhan jurusan Master di berbagai negara dengan beasiswa di atas mulai dari yang sangat sesuai dengan yang ingin saya pelajari sampai yang saya masih ragu.

Ohya, untuk kali ini saya memutuskan untuk S2 di Teknik Sipil yang menjurus ke Teknik Lingkungan. Walaupun akan berisiko saya harus belajar lebih keras disbanding teman-teman yang sebelumnya S1 di Teknik Lingkungan, saya gak bisa memungkiri kalau saya cinta jurusan tersebut. Saya yakin walaupun di bidang teknik, saya tetap dapat berkontribusi secara sosial ke masyarakat tidak mampu.

Sesuai rencana, pada bulan Januari-Maret, saya fokus dengan LPDP dan SI terlebih dulu, baru setelah itu fokus dengan AAS, Turkiye Burslari, NZ, dan fulbright.  Dengan semangat baru, pandangan baru, dan mental baru, saya mulai mengerjakan berbagai persyaratan dokumen yang dibutuhkan.

Short the story, saya berhasil lolos beasiswa SI tahap pertama dan sedang proses tahap kedua. Untuk LPDP, saya berhasil lolos tahap administrasi dan sedang proses tahap kedua: wawancara, leaderless discussion group, dan membuat esai. Seperti yang kita semua sudah tahu, dalam batch ini, LPDP mewajibkan seluruh proses tahap kedua dilakukan dalam bahasa inggris.

Saya masih mengingat masa saya membuat draft tanya jawab wawancara, melakukan simulasi hampir di setiap malam dan saat saya senggang, membaca berita setiap hari, membuat rangkuman-rangkuman singkat tentang berita terkini, hingga menulis beberapa esai.

Hingga hari itupun tiba. Pada hari pertama, saya menghadapai leaderless discussion group dan esai. Saya yakin saya melaksanakan keduanya dengan baik. Pada hari kedua, sayapun diwawancara. Sebenarnya jadwal wawancara saya jam 2 siang tapi saya datang lebih awal untuk membiasakan diri dengan situasi dan mencari info dari teman-teman 1 batch. Ternyata teman-teman sebelum saya belum datang sehingga jadwal wawancara saya dimajukan menjadi jam setengah 9 pagi. Saya kaget sekali waktu itu. Tapi sudahlah, brace the moment!!

Sayapun memasuki aula gedung STAN dan menuju kursi wawancara saya. Kali ini jelas saya berbeda dengan saya di wawancara pertama, saya merasa percaya diri, tenang, dan siap. Rasanya semua amunisi jawaban sudah saya siapkan. Ternyata kali ini mendapatkan 2 pewawancara pria muda dan 1 wanita with her stern look. But, based on their aura, I am sure they will assess me objectively. The truth is, the interview ran well enough. I calmed, relaxed, and kept my composure. I answered in the best way I can. Setelah selesai, sayapun pulang dengan hati membuncah, saya telah melaksanakan sebaik-baiknya. Jadi jikalau saya gagal, tidak akan ada penyeselan.

While waiting for the announcement, I kept myself busy with my work. Pada awalnya saya selalu berdoa agar Allah merestui saya mendapatkan LPDP. Namun, entah kenapa sebuah doa lain muncul dan menjadi semakin kuat: saya berdoa agar diberikan kelapangan dada dan pikiran apabila saya gagal untuk yang kedua kali. Dari perasaan yang semakin kuat tersebut, saya seakan mendapat pertanda kalau saya akan gagal lagi.

Feeling saya terbukti benar. Pada sebuah malam, saya mendapatkan email dari LPDP yang mengatakan saya tidak lulus. Bahkan tulisan TIDAK LULUS ditulis dengan huruf besar, di-bold, dan dengan ukuran font 40. Rasanya kepala saya menjadi berat, dada saya terasa sesak kembali. Saya sedih sekali tapi entah kenapa air mata tidak mengalir. Saya bertanya berulang-ulang dan menghakimi diri saya sendiri: kenapa saya tidak lulus? Saya salah dimana? Jawaban saya yang mana kurang tepat?. Malam itu saya tidak bisa tidur hingga pagi. Berat sekali untuk mengatakan kegagalan ini kepada orang tua. Lagi-lagi saya gagal membanggakan mereka.

Pagi harinya, saya mengatakan hasilnya pada orang tua melalui telepon karena saat itu saya masih dinas kerja di Batam sementara orang tua di Jakarta. Dalam hati saya sangat bersyukur saya tidak mengatakannya face to face karena bisa jadi saya menangis sejadi-jadinya.

Kali ini, doa agar saya diikhlaskan apabila saya tidak lolos membuat saya tidak murung terlalu lama. Saya yakin bahwa ini yang terbaik dari Allah. Biarlah saya gagal lagi, toh saya tinggal mencoba beasiswa lain. Selama ada kemauan, insyaAllah akan ada jalan.

Saya juga merasa sangat terbantu dengan adanya grup “Dream Bigger“, grup ini dibentuk sehari setelah pengumuman LPDP dan berisikan orang-orang yang gagal seperti saya. Mereka berada di posisi yang sama persis dengan saya, tahu persis pahitnya kegagalan ini, sehingga semua motivasi mereka mengena sekali bagi saya. Kami saling menumpahkan perasaan kami masing-masing. Kami juga saling memotivasi agar tidak pernah menyerah dan terus mencoba lagi.

Saya cenderung menjadi pembaca dan hanya sesekali memberikan komentar, walau begitu melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan terimakasih sedalam-dalamnya dengan sepenuh hati kepada teman-teman grup. Terimakasih telah menjadi sinar yang hangat dan ramah di tengah kegelapan waktu itu.

Berikut ini adalah beberapa quotes dari grup “Dream Bigger” yang sekiranya akan membakar optimisme dan mengobati kesedihan kita🙂

“LPDP, no doubt, offers us a good way to get us to our dream careers and lives. But, remember, it’s not the only one. In case the door is locked and the key is given to someone else, there still a lot more doors are waiting for us. Some might be wide open. Some others, might be closed and opened one you knock. The options are always there: get in or knock harder” written by Travel Wilder

Berikut adalah percakapan dalam grup:

“My manager told me, ‘there are huge numbers of doors, don’t only choose and don’t depend on one particular door'” written by Putu.

“Ya benar don’t ever hanging in just one door. Because you never know which other doors can lead us to best place” written by Azni.

Berikut beberapa quotes dalam pictures.

1462021266766.jpg

 

1460601628864.jpg

 

1460546525394.jpg

Selain quotes di atas, teman-teman juga banyak berbagi info tentang beasiswa-beasiswa lain. Bahkan sampai membuat grup khusus Fulbright, NZ, Beasiswa Unggulan, AAS, Turkiye Burslari, dll. Teman-teman juga berbagi tips-tips wawancara hingga link TOEFL, IELTS, dan GRE. Bahkan ada juga yang akhirnya mendapatkan beasiswa dari lembaga lain dan kami memberikan selamat dan ikut bahagia bersama-sama. Padahal kami tidak pernah bertemu sebelumnya tapi ikatan kami seakan terjalin untuk tujuan yang sama.

Kembali ke perjalanan saya, akhirnya saya memutuskan bekerja sebaik-baiknya di perusahaan tempat saya bekerja sekarang dan mempersiapkan diri untuk melamar pekerjaan kembali. Kontrak kerja saya akan berakhir pada Desember 2016 dan saya pikir sebaiknya saya mencari pengalaman kerja lagi sebelum mendaftar beasiswa lagi.

Jujur dalam hati saya merasa bersyukur telah gagal 2 kali. Tidak bisa dipungkiri kegagalan demi kegagalan ini membuat saya menjadi lebih kuat secara mental. Saya juga semakin mengenal diri saya sendiri: apa passion saya, apa yang benar-benar saya inginkan, apakah kapasitas saya sudah cukup, apa kekuatan saya, bagaimana memperbaiki kelemahan-kelemahan saya.

Saya percaya kegagalan ini hanyalah kesuksesan yang tertunda.Kegagalan ini yang justru akan membuat saya mampu menggapai lebih tinggi. Saya yakin walau pintu LPDP telah tertutup total karena saya sudah gagal 2 kali, akan ada pintu-pintu lain yang siap saya ketuk dan terbuka untuk saya.

4 thoughts on “Pengalaman 2 Kali Gagal LPDP: Just Brace the Failures

  1. Hi Titi. Selamat ya SI nya. Semoga menjadi pintu menuju masa depan yang lebih cerah.

    Dream bigger member🙂

  2. Wah makasih udah nulis ini mba, ini sama banget sama saya :”””)

  3. Hi, saya sedang menunggu pengumuman lpdp batch 3 2016 yg tinggal 4 hari lagi, dan sedang mempersiapkan mental seandainya belum diizinkanNya untuk menerima beasiswa LPDP.. boleh tau link grup Dream Bigger?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s