Perubahan perilaku setelah tinggal di Swedia

Tidak terasa sudah hampir 8 bulan saya tinggal di tanah Swedia. Negara utara yang identik dengan hawa dingin dan its-almost-nearly-perpect-people-in the world. Tanpa saya sadari, terjadi perubahan perilaku pada diri saya. Hal-hal yang awalnya tidak terpikir untuk saya lakukan, mulai menjadi perilaku kehidupan saya sehari-hari. Berikut adalah beberapa hal tersebut, yang menurut saya cukup kocak dan epic untuk ditulis. Hehe.

Menggunakan pakaian warna gelap

Untitled

Di Indonesia, saya terbiasa melihat orang-orang menggunakan pakaian warna-warni. Apalagi Indonesia kaya akan beragam baju budaya dan hari kamis atau jumat menjadi hari seragam batik di sekolah atau perusahaan. Sementara hampir semua orang Swedia lebih suka menggunakan warna-warna gelap seperti hitam, abu-abu, atau biru dongker. If there is no blue sky or green leaves, I feel like I live in the monochrome world. Mereka juga tidak keberatan menggunakan pakaian dengan brand yang sama. Personally, I really like their fashion style: it is simple and elegant. I guess many foreign people have similar thought. Salah satu teman saya tinggal cukup jauh dari kampus dan harus melewati statiun pusat kota setiap hari. Teman saya betah sekali di stasiun kota (especially in rush hour) karena dia bisa melihat warga Stockholm berangkat kerja atau kuliah. “I feel like I walk in the catwalk, they are so effortlessly handsome and beautiful with their simple and elegant fashion!”. Picture source: http://www.fashionbeans.com.

Mengecek cuaca setiap pagi

weather-widgets-iphone-hero-780x439Cuaca di Indonesia cukup mudah ditebak yaitu antara cuaca terik atau hujan. Dan cuaca tersebut bisa berlangsung selama beberapa hari dengan konsisten. Sedangkan Swedia cukup unik. Bulan April seharusnya sudah di masa musim semi tapi salju masih bisa turun dengan deras. Kemarin pagi saya mendapati cuaca cukup cerah dengan suhu 7 derajat, tapi, tiba-tiba salju turun cukup deras di siang hari selama 1 jam. Setelah itu, salju berhenti dan langit cerah kembali. Dua minggu sebelum liburan paskah, suhu juga sudah meningkat. Saya pikir musim semi telah benar-benar tiba. Nyatanya, selama 1 pekan ini, suhu kembali turun hingga 2 derajat ditambah dengan hujan salju. Btw, saya tidak pernah mengalami hujan deras di Stockholm. I guess Stockholm has more concern with pile of snow and cold temperature. In extreme condition, these 2 can shut down the entire public transportation system! Picture source: www.cultofmac.com

Mengecek jadwal solat setiap hari

unnamedIndonesia yang terletak di garis khatulistiwa memiliki jadwal solat yang konsisten. Kalaupun ada perubahan, variasinya sekitar 10-15 menit (cmiiw). Di sisi lain, Swedia memiliki jadwal solat yang sangat beragam. Perbedaan waktu solat saat musim panas dan musim dingin sangat berbeda jauh. Pada musim dingin, saya masih bisa solat subuh jam 7 pagi. Solat zuhur jam 12 sampai 13, solat asar jam 13 sampai 15, dan solat magrib dimulai jam 15. Jadi kalau bulan ramadhan jatuh pada musim dingin, saya cukup puasa 7 jam per hari. Sebaliknya pada musim panas, saya bisa puasa hingga 19 jam per hari. Terlebih lagi, kita tidak akan pernah mendengar suara kumandang azan karena hal tersebut dilarang di sini. Jadi sangat umum bagi setiap muslim untuk mengecek jadwal solat setiap hari. Picture source: https://play.google.com

Semakin jarang makan daging

meat-eat-guideHampir semua restoran di Swedia menyediakan menu vegetarian. Hal tersebut menjadi salah satu faktor orang Swedia dalam memilih restoran. Saya baru tahu kalau kebanyakan perempuan Swedia telah menjadi vegetarian selama bertahun-tahun. Vegetarian has become the life style. Saat saya tanya kenapa, jawaban mereka cukup menggugah. Mereka sadar kalau produksi daging adalah kontributor terbesar dalam pemanasan global. Mereka ingin berpartisipasi aktif dalam mengurangi hal tersebut. Selain jarang makan daging, mereka sering makan sayur dan rutin berolahrga (gym, jogging, skiing, yoga, etc). Jadi saya sudah tidak heran lagi kalau melihat ibu dengan 2 anak masih memiliki badan layaknya model.  Picture source: storm.geo.uu.nl

Bekerja efisien

EFFICIENCY-shutterstock_193135784-e1452005979675Jam kerja orang Swedia sangat efisien. Bisa dikatakan mereka bekerja efektif 6 jam per hari dari jam 9 sampai jam 17 dengan fika break di pagi dan sore hari dan lunch break. Jam kerja ini terbukti mengurangi tingkat stres para pekerja, meningkatkan produtifitas pekerja dan keuntungan. Selain itu, proses birokrasi di sini tidak rumit dan sangat straight to the point. Berbeda dengan Indonesia dimana kita harus membuat surat resmi ditambah dengan nomor surat, tanda tangan atasan, dan cap perusahaan, kita cukup berkomunikasi dengan email yang bahkan bukan dengan format surat formal sepanjang bahasa yang digunakan tetap formal dan sopan. Perusahaan di Swedia juga identik dengan flat-organization. Artinya kita sebagai staf bisa dengan mudah bertemu dan berkomunikasi dengan CEO perusahaan sekalipun. Kita bisa berdiskusi dan berbagi ide. Picture source: http://www.joplins.net

Terbiasa dengan personal-space

Orang Swedia adalah orang yang sangat menghargai personal-space. Sebagai contoh, orang-orang yang sedang menunggu bus di halte akan berdiri dengan jarak minimal setengah meter satu sama lain. Kita juga tidak disarankan untuk memperhatikan anak kecil atau bayi lama-lama karena orang tua mereka tidak suka kita mengganggu personal space keluarga mereka. Prinsip utama di Swedia adalah sepanjang kita tidak mengganggu mereka, mereka tidak akan peduli dan tidak akan menganggu kita juga. Picture source: http://blogs.studyinsweden.se

Being lagom

lagom-less-stuff-just-rightLagom is a Swedish term that means “Not too little, not too much. Just right”. Sebagai orang asia, saya biasa dididik dan dituntut untuk mendapatkan nilai bagus. Dengan nilai A, kita akan dipuji. Dengan nilai D, kita akan dicibir. Sementara orang-orang Swedia tidak pernah berambisi mendapat nilai A. Nilai di sini adalah A, B, C, D, E, Fx, dan F. Dengan nilai E, kita masih lulus. Orang Swedia merasa cukup dengan nilai C, bahkan mereka tidak peduli dengan nilai sepanjang mereka mengerti materi kuliah. Selain dari sisi nilai kuliah, kita juga bisa menemukan produk-produk lagoom. Ada telur berukuran besar, kecil, dan lagoom. Walau saya tidak tahu pasti lagom di telur ini dilihat dari segi apa. Apakah dari segi ukuran, gizi, harga, atau yang lain. Picture source: http://less-stuff.co.uk

Datang tepat waktu

webtimemanagementclockOrang Swedia sangat teratur, mengikuti peraturan, dan tepat waktu. Bis dan kereta di sini jarang sekali telat, ketepatannya hingga hitungan menit. Kalaupun telat, itupun hanya berkisar 2-3 menit. Bila kita janjian kumpul jam 10 pagi dengan orang Swedia. Maka mereka akan datang tepat pukul 10. Tidak akan lebih awal atau telat hingga 10 menit. Ohya, di bidang akademik, kita akan sering menjumpai peraturan academic quarter yang berarti kuliah akan dimulai 15 menit dari jadwal. Contoh, kelas jam 8 akan dimulai jam 8.15. Picture source: https://blog.toornament.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s